Langsung ke konten utama

Orang Ketiga, Salahkah?

Posting blog saya kali ini terinspirasi dari beberapa cerita yang saya baca. Tentang orang ketiga dalam suatu hubungan. Hehe. Hmmm, berat? Sepertinya... Let's see! ;)



Mungkin banyak yang menganggap adanya kehadiran orang ketiga adalah petaka dalam suatu hubungan dua orang yang saling mencintai dan sudah dalam tahap serius untuk menuju ke jenjang pernikahan. Pokoknya, apapun yang merusak hubungan itu semuanya adalah karena kesalahan orang ketiga. Terkadang, kita nggak mau berkaca kepada situasi. Karena pada dasarnya otak kita sudah menjudge berbagai hal negatif kepada orang ketiga. Apapun itu, tanpa melihat dari berbagai sisi dan nggak mau menerima alasan yang dilontarkan. 

Memang, nggak bisa dipungkiri kalau ada orang-orang yang senang menjadi pihak ketiga tanpa tujuan yang jelas. Dengan alasan, cuma mau have fun, menikmati hidup, mencari tantangan, atau cuma mau main-main. Kalo alasan nya itu sih, kita sah-sah aja untuk menjudge kalo perilaku dan sikap mereka negatif sebenar-benarnya. Maksudnya, pure cuma mau merusak hubungan orang. Atau ada tujuan khusus, bisa aja pihak ketiga ini adalah pihak yang jadi korban karena hubungan kita. Tanpa kita sadar, tanpa kita sengaja. Semua itu mungkin-mungkin aja kan? Apapun bisa dilakukan sama orang yang sakit hati. Kayak kata orang-orang mungkin ya.. "Cinta ditolak, dukun bertindak". Ehehehehe. Bisa jadi kan? 

Tapi, pernah nggak, kita liat dari sudut pandang lain? Misalnya, si orang ketiga adalah orang dari masa lalu pasangan kamu. Yang belakangan baru kamu tau kalo si orang ketiga ini sebelumnya adalah pacar pasangan kamu. Berhubung, misalnya; kamu dan pasangan kamu adalah hasil perjodohan para orang tua yang kalian nggak bisa tolak bagaimanapun alasannya. Jadilah si orang ketiga ini yang mundur. Apa pernah terpikir sama kamu kalau sebenarnya yang menjadi korban dalam hubungan tersebut adalah si pacar pasangan kamu sekarang yang hitungannya sekarang adalah orang ketiga? Apa pernah terpikir kalo posisi dia sangat sulit? Dan saat pasangan kamu ini nggak siap untuk meninggalkan si pacarnya ini, jadilah mereka berhubungan di belakang kamu. Pertanyaannya sekarang adalah, bisakah kamu menyalahkan orang ketiga sementara kita nggak tau kan perasaan dia yang sebenarnya? Perubahan hidupnya setelah hubungannya dengan pasangan kamu sekarang beralih konteks dari pacar resmi jadi "selingkuhan"? 

Di kasus lain, misalnya pasangan kamu ini pernah nolong seseorang dan orang yang ditolong ini merasa punya hutang budi atau bahkanhutang nyawa sama pasangan kamu. Yang pada akhirnya, orang itu rela ngasih apapun untuk membalas budi. Pastinya masih dalam konteks positif ya. Tapi, lama kelamaan si orang ini merasa tergantung sama pasangan kamu atau bahkan bisa jadi, jatuh cinta. Sedangkan orang ini tau kalo pasangan kamu udah punya pacar; yaitu kamu, dan bahkan kenal juga. Lalu pasangan kamu juga merasakan hal yang sama. Apakah orang ini salah sebagai orang ketiga? Menurut saya sih, dibilang salah ya iya. Karena posisinya si orang ketiga ini udah tau kalo pasangan kamu ini udah punya pacar. Untuk sekedar balas budi, seharusnya si orang ketiga ini bisa mengatur perasaannya dan memposisikan dirinya sebagai kamu sebagai bentuk pengendalian perasaannya. Tapi nggak sepenuhnya salah. Karena mungkin dia nggak bermaksud seperti itu. Semua bisa karena terbiasa kan? Perasaan itu ada tanpa bisa dicegah. Tapi, selalu ada pilihan untuk setiap permasalahan. 

Kita selalu nggak pernah tau apa yang ada di pikiran seseorang, apa yang ada di hati orang lain. Yang kita bisa adalah menebak. Mengira-ngira apa yang mungkin di pikirkan orang lain terhadap suatu hal, terhadap orang lain, atau bahkan terhadap sikap dan kepribadian yang melekat di diri kita. Perasaan datang tanpa bisa dicegah. Kita nggak tau kapan datangnya atau bakalan dateng untuk orang yang tepat. Kalo kata temen saya, kadang perasaan itu hadir di saat yang tepat pada orang yang salah. Bisa juga, hadir di saat yang salah untuk orang yang tepat. Tapi, kita bisa memilih mana yang baik dan mana yang benar. Begitu juga dengan apa yang terjadi sama orang ketiga. Jadi, kita nggak bisa seenaknya aja menjudge kalo semua orang yang menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan itu selalu salah. Karena kita nggak ada dalam situasi yang mereka hadapi.

Yang menjadi orang ketiga pun belum tentu bersenang-senang di atas penderitaan kamu. Karena pada dasarnya mereka juga bingung berada dalam ketidakpastian. Berada dalam tekanan karena capek menanggung penilaian negatif orang lain tentang mereka. Padahal mereka nggak mengharapkan untuk tiba-tiba menjadi orang ketiga.Belum tentu dia akan merebut pasangan kamu. Karena memutuskan itu butuh keyakinan hati dan kejernihan pikiran yang bergantung pada waktu. Jadi, yang kamu perlu lakukan adalah mawas diri. Menempatkan diri kamu pada situasi orang lain bisa membantu untuk menerima sikap dan pilihan hidup orang tersebut.


Jadi, apakah menjadi orang ketiga selalu salah?
Saya kembalikan lagi ke kamu guys.. Hehe. Karena tiap orang punya sikap masing-masing dalam memutuskan suatu perkara.

Komentar